ACEH TAMIANG — Dua aliansi masyarakat bersama warga Aceh menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap sikap sejumlah calon legislatif (caleg) yang dinilai hanya hadir menjelang Pemilu, namun menghilang ketika masyarakat dilanda musibah.
Ungkapan kekecewaan itu mencuat dari warga, khususnya di wilayah Aceh Tamiang, yang mengingat kembali situasi menjelang Pemilu 2024 lalu. Saat itu, kampung-kampung mereka ramai didatangi para caleg yang datang menyampaikan janji dan harapan.
Namun, setelah Pemilu usai dan banjir kembali melanda wilayah mereka, tak satu pun caleg terlihat turun ke lapangan. Dari situlah muncul ungkapan getir yang kini kerap terdengar di tengah masyarakat, “Kami pilih engkau, engkau tak ingat kami.”
Sekretaris PEPABRI Aceh Tamiang, PURN TNI Zulsyafri, mengungkapkan bahwa banjir kembali merendam kawasan pemukiman warga sejak Rabu petang, 26 November 2025. Menurutnya, meski telah dilakukan peninjauan oleh pihak desa dan unsur terkait, banjir tersebut masih terus terjadi.
“Banjir ini bukan hal baru bagi kami. Hampir setiap tahun, terutama saat musim hujan dan pasang air laut, kawasan ini terendam. Dalam setahun bisa satu hingga dua kali,” ujar Zulsyafri.
Ia menambahkan, penyebab utama banjir adalah buruknya sistem drainase. Bahkan, di jalan utama lintas Medan–Banda Aceh yang melintasi Aceh Tamiang, sistem drainase dinilai tidak memadai, sehingga air mudah meluap ke permukiman warga.
Keluhan serupa disampaikan Susilawati, warga Benua Raja yang tergabung dalam PENA PUJAKESUMA. Ia mengakui bahwa sebelum Pemilu, para caleg kerap datang menyapa warga dari kampung ke kampung.
“Dulu sering datang, sekarang setelah Pemilu selesai mereka menghilang begitu saja. Kalimat ‘kami pilih engkau, pasti tak ingat kami’ itu benar-benar kami rasakan hari ini,” katanya.
Sementara itu, Samsul Bahri, warga Tualang Baro, berharap seluruh pihak, baik pemerintah maupun para wakil rakyat, dapat menunjukkan kepedulian nyata. Ia meminta agar masalah banjir yang telah menghantui wilayah tersebut selama puluhan tahun segera dicarikan solusi bersama.
“Dalam kondisi seperti ini, semuanya jadi sulit. Mencari nafkah terganggu, anak-anak kesulitan sekolah, bahkan untuk beribadah pun tidak nyaman,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kekhawatiran warga menjelang masuknya bulan suci Ramadan. “Kami berharap ada perhatian serius. Jangan hanya datang saat butuh suara, lalu pergi ketika rakyat butuh pertolongan,” tutup Samsul Bahri. (Zs)












