Berita Terkini

Akselerasi Pariwisata Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Lintas Sektor

9
×

Akselerasi Pariwisata Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Lintas Sektor

Sebarkan artikel ini

Jakarta|news1kabar.com

Upaya penguatan arah pembangunan pariwisata nasional berbasis keberlanjutan dan kearifan lokal terus mendapatkan perhatian dari kalangan akademisi dan praktisi. Hal ini tercermin dalam kunjungan Guru Besar Pariwisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si. ke kediaman Arief Martha Rahadyan di Jakarta, dalam rangka silaturahmi sekaligus diskusi strategis mengenai masa depan pariwisata Indonesia.

Kunjungan tersebut tidak dilakukan sendiri. Prof. Nyoman hadir bersama tim yang terdiri dari para doktor dan pakar pariwisata, yang turut memperkaya substansi diskusi melalui berbagai perspektif akademik, riset empiris, serta pengalaman praktis di lapangan. Kehadiran tim ahli ini mencerminkan keseriusan dalam mendorong formulasi kebijakan pariwisata yang komprehensif dan berbasis ilmu pengetahuan.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan produktif tersebut, Prof. Nyoman Sunarta memaparkan berbagai gagasan visioner terkait pengembangan pariwisata berkelanjutan, termasuk pendekatan “Nature as Stakeholder” yang menempatkan alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan sebagai entitas yang harus dihormati, dijaga, dan dilibatkan dalam setiap kebijakan pembangunan pariwisata.

Pariwisata masa depan harus berpijak pada harmoni antara manusia, budaya, dan lingkungan. Kita tidak bisa lagi hanya mengejar kuantitas kunjungan, tetapi harus mengedepankan kualitas pengalaman serta keberlanjutan ekosistem,” ujarnya.

Salah satu poin penting yang turut dibahas adalah penguatan identitas kuliner lokal sebagai daya tarik utama pariwisata Indonesia. Prof. Nyoman menekankan bahwa kekayaan gastronomi Nusantara merupakan aset strategis yang belum sepenuhnya dimaksimalkan. Ia mendorong pengembangan standar kuliner khas daerah yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan keaslian rasa dan nilai budaya.

Masakan Indonesia bukan sekadar makanan, tetapi representasi sejarah, tradisi, dan filosofi hidup masyarakat. Ini harus dikemas secara profesional agar mampu memberikan pengalaman autentik bagi wisatawan mancanegara,” tambahnya.

Diskusi juga menyinggung pentingnya pelestarian kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai bagian dari narasi besar pariwisata sejarah dan budaya. Menurut Prof. Nyoman, revitalisasi situs-situs bersejarah serta penguatan storytelling berbasis sejarah lokal dapat menjadi daya tarik unggulan yang membedakan Indonesia dari destinasi lain di dunia.

Arief Martha Rahadyan menyampaikan apresiasi mendalam atas kunjungan dan wawasan yang diberikan. Ia menilai bahwa pemikiran akademis yang berbasis riset dan pengalaman lapangan sangat penting dalam merumuskan kebijakan pariwisata yang adaptif dan berdaya saing.

Saya sangat berterima kasih atas ilmu, perspektif, dan pengalaman yang telah dibagikan. Ini menjadi bekal berharga dalam memahami bagaimana pariwisata Indonesia dapat dikembangkan secara lebih terarah, berkelanjutan, dan berkelas dunia,” ungkapnya.

Arief juga menegaskan bahwa sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pemangku kepentingan merupakan kunci dalam membangun ekosistem pariwisata modern yang inklusif, termasuk melalui digitalisasi, penguatan branding destinasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Arief Martha Rahadyan dikenal memiliki pengalaman panjang di sektor pariwisata internasional, khususnya dalam hubungan Indonesia–Rusia. Ia menjabat sebagai Direktur Bali Russia Language Institute (BRLI) sejak 2022 dan General Manager Balitourus Russian Tours & Travel sejak 2009.

Arief sebelum nya juga memimpin Russian Study Centre Denpasar serta berperan sebagai pengajar dan koordinator akademik bahasa Rusia. Pengalaman lebih dari dua dekade tersebut memberikan keunggulan dalam memahami karakteristik wisatawan mancanegara, khususnya pasar Eropa Timur, sekaligus memperkuat jaringan diplomasi pariwisata berbasis budaya dan bahasa. Selain itu, keterlibatannya dalam proyek strategis nasional, termasuk pengembangan North Bali International Airport (NBIA) yang memasuki tahap awal pembangunan pada 2026.

Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dari kolaborasi yang lebih luas dalam merumuskan strategi pariwisata Indonesia yang tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai lokal, keberlanjutan lingkungan, serta identitas budaya bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *