News1kabar.com — Pagi di halaman Rumah Sakit Umum Daerah Langsa selalu tampak sama. Ambulans keluar masuk, keluarga pasien menunggu dengan wajah lelah, perawat berjalan cepat di lorong-lorong panjang. Dari luar, rumah sakit ini terlihat berdenyut sebagaimana mestinya. Namun di balik dinding-dinding itu, ada satu ruang yang nyaris tak pernah benar-benar “berpenghuni”: ruang Direktur.
Sejak Oktober 2020, kursi pimpinan tertinggi RSUD Langsa seolah tak pernah hangat. Hari itu, manajemen rumah sakit mengucapkan selamat dan sukses kepada dr. Helmiza Fahry, Sp.OT, yang ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur. Publik mengira itu hanya sementara, jembatan menuju direktur definitif. Nyatanya, jembatan itu menjadi jalan berputar-putar tanpa ujung.
Tahun berganti, Plt datang dan pergi. Ada yang menjabat cukup lama, ada pula yang sekadar “menghitung hari”. Bagi warga Kota Langsa, ini bukan lagi kabar mengejutkan. Ia berubah menjadi rutinitas yang aneh dan terlalu aneh untuk ukuran sebuah rumah sakit rujukan daerah.
Harapan sempat tumbuh pada 14 Juni 2024. Di sebuah pelantikan resmi, drg. Ridha Zulkumar, MARS, diambil sumpahnya sebagai direktur definitif oleh Penjabat Wali Kota Langsa. Banyak yang berharap, inilah akhir dari era Plt. Inilah awal pembenahan serius dari tata kelola, pelayanan, hingga kepercayaan publik.
Namun harapan itu berumur pendek. Tiga bulan kemudian, tepat 8 September 2024, direktur definitif itu mengundurkan diri dan kembali ke jabatan fungsional. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada narasi utuh yang disampaikan ke publik. Yang tersisa hanya tanda tanya.
Setelah itu, lingkaran kembali berulang. Pada 10 September 2025, Wali Kota Langsa menunjuk dr. Donny Maulizar, MKM. Publik kembali menunggu. Namun belum genap lama, 6 Januari 2026, tongkat estafet kembali berpindah. Jeffry Sentana S Putra menunjuk Erizal sebagai Plt Direktur RSUD Langsa.
Di titik ini, pertanyaan itu tak lagi bisa ditahan, apa yang sebenarnya terjadi di RSUD Langsa?
Bagi tenaga kesehatan di lapangan, pergantian pimpinan bukan sekadar urusan struktur. Setiap direktur membawa gaya, kebijakan, dan prioritas berbeda. Program yang hari ini dirancang, esok bisa berubah arah. Penguatan layanan, penataan keuangan, hingga urusan klaim BPJS sering kali terhambat oleh transisi yang tak berkesudahan.
Bagi pasien dan keluarga pasien, dampaknya lebih sunyi namun terasa. Antrian panjang, pelayanan yang terasa “begitu-begitu saja”, dan harapan akan perubahan yang selalu tertunda. Mereka mungkin tak peduli siapa nama direkturnya. Yang mereka inginkan sederhana: layanan yang cepat, manusiawi, dan pasti.
Fenomena RSUD Langsa memunculkan dua kemungkinan yang sama-sama pahit. Pertama, apakah memang tak ada figur yang mampu memimpin secara definitif? Kedua, atau justru sistemnya yang membuat siapa pun sulit bertahan? Jika kursi direktur terlalu sarat tekanan non-teknis, minim kewenangan, atau penuh tarik-menarik kepentingan, maka mundur adalah pilihan yang masuk akal, bahkan bagi profesional terbaik sekalipun.
Rumah sakit bukan panggung politik. Ia adalah ruang harapan. Ketika kepemimpinan terus berganti tanpa arah yang jelas, yang dipertaruhkan bukan sekadar jabatan, melainkan keselamatan dan martabat pelayanan kesehatan publik.
Kini, RSUD Langsa kembali dipimpin oleh seorang Plt. Dan publik kembali menunggu. Menunggu jawaban yang tak kunjung datang, sampai kapan kursi direktur ini akan terus dingin? Dan kapan Langsa benar-benar memiliki pemimpin rumah sakit yang bisa bekerja tanpa bayang-bayang sementara?
Oponi ini bukan tudingan personal. Ini cermin bagi sistem. Karena selama akar persoalan tak disentuh, RSUD Langsa akan terus berputar di lingkaran yang sama, sementara pasien terus datang, berharap, dan menunggu lebih lama dari yang seharusnya.
Penulis : Chaidir Toweren ketua PERWAL












