Berita Terkini

Situbondo Pasang Badan! Siap Jadi Arena Konsolidasi Besar Muktamar Ke-35 NU Pasca-Islah PBNU

40
×

Situbondo Pasang Badan! Siap Jadi Arena Konsolidasi Besar Muktamar Ke-35 NU Pasca-Islah PBNU

Sebarkan artikel ini

SURABAYA — Pasca-islah pucuk pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), arah angin politik dan keagamaan di tubuh Nahdlatul Ulama kian menguat menuju persatuan. Di tengah momentum tersebut, Pemerintah Kabupaten Situbondo tampil percaya diri dan “pasang badan” menyatakan kesiapan penuh menjadi tuan rumah Muktamar Ke-35 NU.

Pernyataan tegas itu disampaikan langsung oleh Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, dalam rangkaian kegiatan napak tilas sejarah NU di kawasan Makam Sunan Ampel, Minggu (4/1/2026). Kegiatan tersebut diikuti sejumlah kepala daerah dan menjadi simbol kuat kembalinya soliditas NU pasca-islah antara Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

“Kalau Muktamar NU ditetapkan di Situbondo, kami bukan hanya siap, tapi sangat siap. Ini bukan sekadar acara besar, ini momentum persatuan jam’iyah,” tegas Bupati Yusuf Rio di hadapan para kiai dan tokoh NU.

Bagi Situbondo, kesiapan ini bukan klaim kosong. Kota santri di pesisir utara Jawa Timur itu memiliki ikatan sejarah kuat dengan lahirnya NU. Napak tilas di Makam Sunan Ampel merujuk pada perjalanan monumental As’ad Syamsul Arifin, ulama besar asal Situbondo yang mendapat amanah dari gurunya, Syekh Khona Kholil, untuk menyerahkan tongkat dan tasbih kepada Hasyim Asy’ari. Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai simbol kelahiran Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

“Sejarah NU tidak bisa dilepaskan dari Situbondo. Ini bukan sekadar nostalgia, tapi amanah moral yang hidup sampai hari ini,” ujar Yusuf Rio.

Ia juga mengingatkan bahwa Situbondo pernah menjadi tuan rumah Muktamar NU 1984, muktamar bersejarah yang melahirkan keputusan “Kembali ke Khittah 1926”. Menurutnya, dinamika NU saat ini memiliki irisan sejarah yang kuat dengan situasi kala itu yakni kebutuhan akan konsolidasi, kedewasaan organisasi, dan penguatan persatuan umat.
Pesantren Siap Menopang, Konsumsi Ditanggung Kiai

Tak hanya mengandalkan infrastruktur pemerintah, kesiapan Situbondo juga ditopang kekuatan pesantren. Bahkan, kata Bupati, muncul inisiatif dari para kiai agar konsumsi peserta Muktamar Ke-35 NU ditanggung langsung oleh pondok pesantren di Situbondo.

“Para kiai sudah bicara. Ada keikhlasan luar biasa. Pesantren siap menopang, ini gotong royong khas NU,” ungkapnya.
Pemerintah daerah memastikan seluruh elemen mulai dari pemkab, ulama, santri, hingga masyarakat siap bekerja bersama demi penyelenggaraan muktamar yang aman, khidmat, dan bermartabat.

Dengan modal sejarah, kekuatan pesantren, serta momentum pasca-islah PBNU, Situbondo kini menunggu keputusan resmi dari para kiai sepuh NU.

Jika palu PBNU diketuk, Situbondo menyatakan diri siap menjadi rumah besar konsolidasi NU, tempat menyatukan kembali barisan jam’iyah untuk melangkah ke masa depan.
“NU besar karena persatuan. Situbondo siap menjadi saksi dan penjaganya,” pungkas Bupati Yusuf Rio. (##)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *