Berita Terkini

Menjahit Kembali Panji Nusantara: Ridwan Hisjam Serukan Harmoni Sumpah Palapa dan Filosofi Tauhid di Era Modernisasi

47
×

Menjahit Kembali Panji Nusantara: Ridwan Hisjam Serukan Harmoni Sumpah Palapa dan Filosofi Tauhid di Era Modernisasi

Sebarkan artikel ini

Jakarta|news1kabar.com

Di tengah arus modernisasi dan tantangan global yang kian kompleks, bangsa Indonesia diingatkan kembali pada akar kekuatannya yakni *Persatuan yang Visioner dan Fondasi Spiritual yang Kokoh*. Tokoh nasional, Ridwan Hisjam, mengajak seluruh elemen bangsa untuk merefleksikan kembali semangat Mahapatih Gajah Mada dan kedalaman filosofi Gunungan Wayang Kaligrafi sebagai kompas moral dalam membangun masa depan Indonesia.

​Sumpah Palapa, Etos Kerja dan Integritas Tanpa Batas. ​Ridwan Hisjam menekankan bahwa keberhasilan Gajah Mada menyatukan Nusantara bukan sekadar penaklukan wilayah, melainkan manifestasi dari integritas dan pengabdian total.

​”Sumpah Palapa adalah simbol determinasi. Di era digital saat ini, kita butuh ‘Gajah Mada – Gajah Mada Modern’ yang berani menunda kenikmatan pribadi demi kedaulatan bangsa. Persatuan dari Tanah Jawa hingga Semenanjung Malaya yang dicapai Majapahit adalah bukti bahwa Indonesia ditakdirkan menjadi pemain besar dunia jika kita satu tujuan,” ujar Ridwan Hisjam dalam sebuah diskusi kebangsaan, Kamis (23/4/2026).

​Lebih lanjut, Ridwan menyoroti akulturasi budaya pada Gunungan Wayang yang memuat kaligrafi Allah, Muhammad, dan Laa ilaha illallah. Baginya, ini adalah representasi dari strategi dakwah yang damai dan inklusif—sebuah konsep yang relevan untuk menjaga kerukunan di tengah keberagaman saat ini.

​Sangkan Paraning Dumadi, Ridwan mengingatkan bahwa segala kemajuan teknologi dan pembangunan harus kembali pada nilai ketuhanan. ​Syahadat sebagai Fondasi, seperti kalimat Tauhid di dasar Gunungan yang lebar, stabilitas bangsa Indonesia bergantung pada seberapa kuat kita memegang teguh nilai moral dan kejujuran sebagai fondasi bernegara.

​Sebagai tokoh yang dikenal peduli pada nilai-nilai kebangsaan, Ridwan Hisjam melihat bahwa tantangan modernitas—seperti polarisasi sosial dan pengikisan budaya—hanya bisa dilalui dengan mengadopsi semangat kepemimpinan Gajah Mada yang dipadukan dengan kearifan lokal Walisongo.

​”Kita tidak boleh menjadi bangsa yang tercerabut dari akarnya. Modernisasi adalah sarana, tetapi jati diri kita adalah Nusantara yang bersatu dan bertauhid. Saya melihat Gunungan Wayang tersebut bukan sekadar seni, tapi peta jalan, bahwa di puncak segala ambisi dan di dasar setiap kebijakan, kepentingan rakyat dan rida Tuhan harus menjadi yang utama,” tegas Ridwan.

​Melalui narasi ini, Ridwan Hisjam mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam sejarah, tetapi menjadi penggerak perubahan yang memiliki ketahanan mental layaknya Gajah Mada dan kedalaman spiritual layaknya filosofi Gunungan. Inilah kunci menuju Indonesia Emas yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga harmonis dalam jiwa.

Ridwan Hisjam adalah tokoh nasional yang aktif menyuarakan pentingnya keseimbangan antara kemajuan politik-ekonomi dengan pelestarian nilai budaya dan spiritualitas Nusantara. Beliau terus berkomitmen untuk mendorong dialog antarbudaya demi persatuan Indonesia.

Catatan Pengabdian Parlemen (5 Periode):
1997 – 1999 (MPR-RI Utusan Daerah)
1999 – 2004 (DPR-RI)
2004 – 2009 (DPR-RI)
2014 – 2019 (DPR-RI)
2019 – 2024 (DPR-RI)

Namun, sebelum dikenal sebagai “Singa Parlemen”, Ridwan adalah seorang teknokrat dan pebisnis yang disegani. Prestasinya di dunia usaha diakui secara nasional saat ia menerima penghargaan Adhiyasa Grhatama dari Presiden RI ke-2, H.M. Soeharto, di Istana Negara (1997). Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilannya membangun kawasan rumah sederhana terbesar di Gresik, sebuah bukti nyata keberpihakannya pada kebutuhan dasar rakyat bahkan sebelum ia terjun penuh ke dunia politik.

Oleh: Koningh Anwar& Alimurtazha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *