MEDAN | news1kabar.com
Dalam lembar panjang sejarah PSMS Medan, nama Sunardi B berdiri kokoh sebagai pemimpinan yang tenang namun menentukan. Ia bukan tipe kapten yang gemar mencari sorotan, melainkan sosok yang membiarkan keteladanan berbicara melalui sikap, konsistensi, dan keberanian mengambil tanggung jawab disaat-saat paling krusial.
Hingga kini, Sunardi B masih dikenang sebagai satu-satunya kapten yang mampu membawa PSMS Medan meraih gelar juara Divisi Utama Perserikatan dua kali berturut-turut sebuah capaian yang tak hanya menjadi prestasi, tetapi juga penanda era keemasan Ayam Kinantan.
Era 1980-an merupakan masa ketika sepak bola Indonesia dipenuhi romantisme, loyalitas di Stadion yang bergemuruh. dalam kerasnya persaingan kompetisi Perserikatan yang dikelola PSSI hingga PSMS Medan tampil sebagai kekuatan besar, dengan Sunardi B menjadi poros kepemimpinan diatas lapangan.
Bermain diposisi kunci, ia dikenal sebagai pemain disiplin dengan kecerdasan membaca permainan yang tinggi. Sunardi B mampu menjaga keseimbangan tim, sekaligus menjadi penenang dalam tekanan. Kepemimpinannya tidak hadir lewat teriakan, melainkan melalui ketenangan yang menular kepada rekan-rekannya.
Puncak kejayaan pertama datang pada musim 1983. Dalam partai final yang sarat tekanan, Sunardi B dipercaya mengenakan ban kapten, menggantikan Zulham Effendi Harahap. Laga berlangsung ketat tanpa gol hingga perpanjangan waktu, memaksa penentuan melalui adu penalti. Dalam situasi genting tersebut, Sunardi B tampil sebagai pemimpin yang mampu menjaga fokus tim.
PSMS Medan akhirnya keluar sebagai juara setelah menundukkan Persib Bandung dengan skor 3–2 dalam drama adu penalti sebuah kemenangan yang menegaskan mental baja skuad Medan.
Dua tahun berselang, sejarah kembali berpihak. Pada 1985, Sunardi B kembali memimpin PSMS Medan, kali ini dengan peran ganda sebagai kapten sekaligus asisten pelatih. Final tersebut tercatat sebagai salah satu pertandingan paling monumental dalam sejarah sepak bola nasional, disaksikan sekitar 150 ribu penonton sebuah rekor yang masih dikenang hingga hari ini.
Laga berjalan dramatis dan berakhir imbang 2–2 hingga perpanjangan waktu, sebelum kembali ditentukan melalui adu penalti. PSMS Medan memastikan gelar juara, sekaligus menegaskan dominasi dan konsistensi tim dibawah kepemimpinan Sunardi B.
Diluar level club, Sunardi B juga mencatatkan kontribusi penting bersama Tim PSSI Wilayah I. Ia menjadi bagian dari skuad yang menghadapi Ajax Amsterdam di Medan pada 1984—sebuah laga prestisius yang mempertemukan sepak bola Indonesia dengan salah satu raksasa Eropa.
Kemenangan dalam pertandingan tersebut menjadi catatan bersejarah, sekaligus menunjukkan kualitas pemain-pemain Perserikatan dimata Internasional.
Usai final 1985, Sunardi B memutuskan gantung sepatu. Keputusan itu menandai akhir kariernya sebagai pemain, namun bukan akhir pengabdiannya. Ia beralih menjadi pelatih, mengabdikan pengalaman dan ilmunya sebagai Asisten Pelatih Tim PON Sumatera Utara serta pelatih PSMS Medan.
Dalam peran barunya, ia kembali menunjukkan dedikasi tinggi dengan membawa tim melaju hingga babak enam besar sebuah bukti bahwa kepemimpinannya tetap relevan, bahkan tanpa ban kapten dilengannya.
Lahir pada 17 Januari 1952 di Simalungun, Sumatera Utara, Sunardi B merupakan potret pemain yang mengabdi sepenuh hati. Setelah meninggalkan dunia sepak bola, ia memilih menjalani kehidupan sederhana dengan fokus pada pekerjaannya di PTP sebuah pilihan yang mencerminkan karakter rendah hati yang ia tunjukkan sepanjang karier.
Kini, nama Sunardi B mungkin tak lagi sering disebut oleh generasi baru. Namun, jejaknya tetap terpatri kuat dalam sejarah PSMS Medan. Ia adalah kapten sunyi yang menjaga kejayaan, pemimpin yang membuktikan bahwa keteguhan dan keteladanan mampu melahirkan prestasi abadi.
Bagi Ayam Kinantan, Sunardi B adalah legenda ia adalah bagian dari identitas yang tak tergantikan.(news1kbr/m-40)












