Oleh: Wan Salsabila
Aceh Tamiang – Banjir besar yang melanda Desa Pantai Cempa, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, pada November 2025 lalu tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga luka batin yang mendalam, khususnya bagi anak-anak dan remaja.
Saat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari IAIN Cot Kala Langsa melaksanakan pengabdian pada 23 Februari hingga 17 Maret 2026, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Sabrida M. Ilyas, M.Ed, kondisi desa memang mulai berangsur pulih. Namun, trauma masih membekas. Suara hujan yang turun perlahan kerap memicu kecemasan, bahkan kepanikan, bagi sebagian anak.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN IAIN Cot Kala Langsa menginisiasi program pemulihan psikososial yang dirancang secara terstruktur dan humanis. Program ini diikuti oleh sekitar 60 anak tingkat sekolah dasar dan 25 remaja, yang menjadi sasaran utama pemulihan emosional pascabencana.
“Kami melihat langsung bagaimana anak-anak masih merasa takut ketika mendengar suara hujan. Dari situ, kami mencoba menghadirkan pendekatan yang sederhana, tetapi menyentuh sisi emosional mereka,” ujar salah satu mahasiswa KKN.
Kegiatan dilakukan melalui enam sesi utama yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan.

-Dimulai dari sesi pembukaan dengan salam hangat dan pelukan diri (self-hug), anak-anak diajak untuk menyalurkan emosi dan merasakan kembali suasana aman.
-Pada sesi berikutnya, peserta diminta menggambar “rumah aman” sebagai simbol tempat yang memberikan rasa nyaman. Mereka juga diajak menggambar sosok “penjaga”, yakni orang-orang terdekat yang membuat mereka merasa terlindungi.
Pendekatan ini dilanjutkan dengan latihan mengelola rasa takut melalui teknik pernapasan. Anak-anak dikenalkan bahwa rasa takut adalah hal yang wajar, namun dapat dikendalikan secara bertahap.
“Kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri, dan mereka punya kemampuan untuk menenangkan diri,” tambahnya.
-Tidak hanya itu, melalui sesi “aku punya kekuatan dan cita-cita”, anak-anak didorong untuk mengenali potensi diri serta membangun kembali kepercayaan diri yang sempat terganggu akibat bencana.
Edukasi kesiapsiagaan juga menjadi bagian penting dalam program ini.
-Dalam sesi “siaga bencana”, anak-anak diajarkan langkah-langkah dasar menghadapi banjir agar lebih siap dan tidak panik jika situasi serupa kembali terjadi.
Sebagai penutup, kegiatan dikemas dalam “pesta keberanian”, sebuah momen refleksi yang menghadirkan suasana gembira melalui puisi, nyanyian, dan doa bersama. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa mereka mampu melewati proses sulit dan bangkit kembali.

Kehadiran mahasiswa KKN IAIN Cot Kala Langsa sebagai fasilitator turut memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat. Media sederhana seperti gambar dan permainan terbukti efektif dalam membantu anak-anak mengekspresikan emosi mereka.
Salah seorang warga mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kegiatan tersebut. “Anak-anak sekarang sudah mulai berani bermain saat hujan turun. Tidak seperti sebelumnya yang langsung takut,” ujarnya.
Meski demikian, proses pemulihan belum sepenuhnya selesai. Beberapa anak masih menunjukkan respons panik saat mendengar suara hujan, menandakan bahwa trauma yang dialami masih membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Program ini menjadi bukti bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya sebatas kegiatan formal, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pendekatan psikososial yang dilakukan secara sederhana namun tepat sasaran terbukti membantu anak-anak bangkit dari trauma menuju harapan baru.(#)
Naskah-(Wan Salsabilah)












