Jakarta|news1kabar.com
Dalam upaya memperkuat fondasi kebangsaan dan menghadapi tantangan global, tokoh nasional Ir. Ridwan Hisjam menegaskan pentingnya transformasi demokrasi yang substansial di Indonesia. Menurutnya, demokrasi tidak boleh hanya berhenti pada prosedur politik, melainkan harus menyentuh aspek paling mendasar dari pembangunan manusia, yaitu melalui integrasi teknologi dan penguatan kualitas pendidikan yang inklusif.
Ir. Ridwan Hisjam menyoroti bahwa kunci utama transformasi ini terletak pada pemanfaatan data kependudukan yang akurat sebagai pijakan kebijakan publik. Merujuk pada data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 287,2 juta jiwa, dengan populasi perempuan yang terus menunjukkan pertumbuhan stabil hingga mencapai 142,33 juta jiwa, Selasa (21/04/2026).
“Data menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar angka statistik, melainkan pilar utama pembangunan nasional. Dengan populasi perempuan yang diproyeksikan menembus 143 juta jiwa pada semester awal 2026, kebijakan negara harus mampu mengakomodasi kebutuhan mereka, terutama dalam aspek pendidikan dan akses teknologi,” ujar Ridwan Hisjam.
Dalam konteks pendidikan, Ridwan Hisjam mengajak bangsa Indonesia untuk kembali meneladani semangat RA Kartini. Sebagai tokoh emansipasi dan teladan dunia pendidikan, Kartini telah meletakkan dasar bahwa pendidikan adalah alat pembebasan dan kemajuan bangsa.
Semangat Kartini tersebut kini tercermin dalam tren positif pendidikan perempuan Indonesia. Berdasarkan data BPS 2026, tingkat penyelesaian pendidikan menengah atas (SMA/Sederajat) perempuan mencapai 69,54%, melampaui laki-laki yang berada di angka 64,14%. Bahkan, sejak 2024, persentase perempuan yang menyelesaikan pendidikan tinggi (Universitas/Diploma) terus mengungguli laki-laki.
“Kita melihat ‘Kartini-Kartini Modern’ muncul melalui data ini. Tingginya partisipasi perempuan di jenjang pendidikan tinggi adalah modal besar bagi demokrasi substansial. Namun, tantangan kita adalah memastikan transformasi digital atau teknologi juga merambah ke seluruh lapisan kelompok usia, terutama pada kelompok produktif 25-29 tahun yang jumlahnya mencapai 10,95 juta jiwa,” tambahnya.
Ridwan Hisjam mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menerapkan sistem kebijakan berbasis teknologi guna memastikan distribusi sumber daya pendidikan yang merata. Dengan tingkat partisipasi sekolah kelompok umur 7-23 tahun yang mencapai 75,76%, teknologi harus digunakan untuk menutup celah akses antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.
“Demokrasi yang substansial terjadi ketika setiap warga negara, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang sama untuk cerdas secara intelektual dan mandiri secara ekonomi. Dengan memanfaatkan data proyeksi penduduk hingga 2026 ini, kita harus bergerak menuju kebijakan yang lebih presisi, transparan, dan inklusif,” tegas Ridwan.
Ir. H. M. Ridwan Hisjam adalah tokoh senior dan politisi Indonesia yang aktif dalam memperjuangkan kebijakan berbasis teknologi, pendidikan, Selama menjabat di Komisi Tujuh (7) yang membidangi (ESDM, Perindustrian, BRIN) periode 2019-2024, dan Komisi Sepuluh (10) (Pendidikan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga) periode 2014-2017. Ridwan dikenal vokal dalam mendorong kemandirian energi dan peningkatan kualitas Sumberdaya Manusia (SDM), dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Beliau dikenal konsisten dalam mendorong transformasi demokrasi yang substansial dan percepatan hilirisasi industri untuk mencapai kedaulatan nasional yang berkelanjutan.
Perjalanan Organisasi Ir. Ridwan Hisjam, sebagai Ketua PPK Kosgoro 1957 periode 2013–2018, Bendahara Umum Satkar Ulama Indonesia 2012–2017, Ketua Dewan Pembina DPP HIPGI 2012–2017, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Wilayah Jawa Timur 2011, DPRD Jawa Timur periode 2004-2009, Wakil Ketua Umum PP IKA ITS 2011, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar 2009, Ketua DPD Golkar Jawa Timur 2000–2004, Ketua Umum HIPMI Jawa Timur 1992–1995, Ketua Kehormatan HIPMI Jatim (hingga sekarang), Ketua DPD REI Jawa Timur 1996–1999, DPO DPP REI (2013–sekarang), Presiden Direktur KPPDM 1995–1999, Alumni LEMHANNAS KSA Empat Belas (XIV) 2006, SSLN di Pentagon, Amerika Serikat, SSDN di Provinsi Jambi, dan Wakil Ketua Komisi Tiga Belas (XIII) Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia, periode 2025-2030. Catatan Pengabdian Parlemen (5 Periode): 1997 – 1999 (MPR-RI Utusan Daerah), 1999 – 2004 (DPR-RI), 2004 – 2009 (DPR-RI), 2014 – 2019 (DPR-RI), 2019 – 2024 (DPR-RI).
Namun, sebelum dikenal sebagai “Singa Parlemen”, Ridwan adalah seorang teknokrat dan pebisnis yang disegani. Prestasinya di dunia usaha diakui secara nasional saat ia menerima penghargaan Adhiyasa Grhatama dari Presiden RI ke-2, H.M. Soeharto, di Istana Negara (1997). Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilannya membangun kawasan rumah sederhana terbesar di Gresik, sebuah bukti nyata keberpihakannya pada kebutuhan dasar rakyat bahkan sebelum ia terjun penuh ke dunia politik.
Sebagai penutup, Ridwan Hisjam menekankan bahwa sinkronisasi antara data kependudukan yang bersih (DKB) dengan strategi pendidikan nasional adalah harga mati untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, menuju Mercusuar Dunia. “Mari kita jadikan pendidikan sebagai panglima, dan teknologi sebagai akselerator, sebagaimana impian RA Kartini untuk melihat bangsa ini maju dan bermartabat,” pungkasnya.
Oleh: Koningh Anwar& Alimurtazha












